Haryoprahasto, Michael Pangeran (2025) INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK DAUN KEPEL (Stelechocarpus burahol) DENGAN PERLAKUAN IMERSI ASAM ASKORBAT SERTA KOMBINASI HORMON BAP DAN 2,4-D. S1 thesis, UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA.

Text (Michael Pangeran Haryoprahasto)
200802183_Bab 0.pdf

File Pdf (1MB)
Text
200802183_Bab 1.pdf

File Pdf (426kB)
Text
200802183_Bab 2.pdf

File Pdf (602kB)
Text
200802183_Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

File Pdf (451kB)
Text
200802183_Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

File Pdf (809kB)
Text
200802183_Bab 5.pdf
Restricted to Registered users only

File Pdf (410kB)
Text
200802183_Lamp.pdf

File Pdf (478kB)

Abstract

Kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan flora identitas dari Daerah
Istimewa Yogyakarta, karena digunakan oleh Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Penggunaan kepel oleh Keraton mengakibatkan populasi kepel di luar lingkungan
Keraton sedikit. Beberapa kendala perbanyakan tanaman kepel, yaitu pembuahan
Kepel baru terjadi saat tanaman mencapai 8 tahun dan adanya kesulitan pada
metode vegetatif, seperti stek dan pencangkokan. Oleh karena itu diperlukan
metode Kultur Jaringan Tumbuhan yang salah satu caranya dengan menginduksi
kalus embriogenik. Daun merupakan salah satu eksplan yang umum digunakan,
namun daun Kepel memiliki kandungan fenolik tinggi yang dapat mengakibatkan
browning. Browning dapat dicegah dengan senyawa antioksidan seperti asam
askorbat. Induksi kalus dengan eksplan daun membutuhkan kombinasi hormon
yang spesifik, salah satunya dengan kombinasi hormon BAP dan 2,4-D. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu imersi dan konsentrasi asam
askorbat untuk mencegah browning, mengetahui kombinasi hormon BAP dan 2,4-
D yang terbaik untuk menginduksi kalus embriogenik, mengetahui tahapan
pembentukan kalus, ciri-ciri morfologi kalus, dan anatomi dari kalus daun kepel.
Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi imersi eksplan daun kepel dalam
larutan asam askorbat dengan variasi konsentrasi (50, 75, 100, 125, dan 150 ppm)
serta variasi waktu (10, 20, 30 dan 40 menit), dan induksi kalus daun kepel dengan
kombinasi hormon BAP (0, 0,5, dan 1 ppm) dan 2,4-D (1, 2, 3, 4, dan 5 ppm). Setiap
variabel perlakuan menggunakan 5 kali ulangan. Parameter pengamatan meliputi
browning eksplan daun, jumlah kalus yang terbentuk, tahap pembentukan kalus,
morfologi kalus, dan histologi kalus. Analisis data dilakukan dengan “two way
ANOVA”, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa imersi dengan konsentrasi asam askorbat 150 ppm selama 30
menit yang dapat menghambat browning hingga 100% merupakan perlakuan
terbaik pada eksplan daun kepel. Adapun kombinasi BAP 0,5 ppm dan 2,4-D 5 ppm
merupakan perlakuan terbaik untuk menginduksi kalus embriogenik dari daun
kepel dengan persentase induksi kalus 50%. Pembentukan kalus kepel diawali dari lokasi terluka daun sebelum memenuhi permukaan daun tanpa adanya pelengkungan daun, dengan ciri-ciri kalus yang diperoleh berwarna putih
kekuningan dan bertekstur remah. Kalus yang diperoleh secara histologis menunjukkan sifat embriogenik yang ditandai dengan sitoplasma yang padat dan inti sel yang mudah diamati.

Item Type: Thesis (S1)
Uncontrolled Keywords: Stelechocarpus burahol, kalus embriogenik, pencegahan pencoklatan, kombinasi hormon.
Subjects: Teknobiologi > Tekno Lingkungan
Divisions: Fakultas Teknobiologi > Biologi
Date Deposited: 29 Oct 2025 02:42
Last Modified: 29 Oct 2025 02:42
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/34973

Actions (login required)

View Item
View Item