Askadilla, Wilhelmina Leli (2015) AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KANA (Canna coccinea) TERHADAP Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococcus aureus DENGAN VARIASI PENGEKSTRAK. S1 thesis, UAJY.

Text (Halaman Judul)
0BL01179.pdf

File Pdf (581kB)
Text (Bab I)
1BL01179.pdf

File Pdf (219kB)
Text (Bab II)
2BL01179.pdf

File Pdf (388kB)
Text (Bab III)
3BL01179.pdf
Restricted to Registered users only

File Pdf (383kB)
Text (Bab IV)
4BL01179.pdf
Restricted to Registered users only

File Pdf (1MB)
Text (Bab V)
5BL01179.pdf

File Pdf (985kB)

Abstract

Komponen fitokimia dari daun tanaman Canna coccinea terdiri dari
golongan alkaloid, steroid atau triterpenoid, flavonoid dan tanin, sementara tanin
merupakan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui adanya kemampuan dalam ekstrak daun Canna coccinea dalam
menghambat Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Variasi dari
pengekstrak bertujuan untuk melihat pelarut yang paling maksimal dalam menarik
senyawa fitokimia dari daun kana sebagai antibakteri. Penelitian ini menggunakan
parameter uji berupa Zona Hambat dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM).
Proses penarikan senyawa fitokimia dalam daun kana merah menggunakan
metode maserasi dengan variasi pelarut yaitu etanol dan aseton. Hasil ekstrak
kedua pelarut dipekatkan menjadi bentuk pasta dan diujikan pada mikrobia uji
melalui metode difusi agar (sumuran) untuk mengetahui zona hambat yang
terbentuk. Hasil analisis menggunakan ANAVA dan DMRT dengan SPSS 20.0
menunjukkan bahwa tidak terdapat beda nyata antara ekstrak etanol maupun
ekstrak aseton terhadap kontrol positif yaitu ampisilin (tingkat kepercayaan 95%)
pada kedua bakteri uji. Hasil menunjukkan pula bahwa terdapat beda nyata antara
ekstrak etanol maupun aseton terhadap kontrol negatif yaitu kedua pelarut tanpa
ekstrak. Ekstrak etanol memiliki zona hambat (2,4436 cm2) paling besar
dibandingkan ekstrak aseton (1,85486 cm2), namun tidak berbeda nyata dengan
kontrol positif (2,138 cm2) pada bakteri Pseudomonas aeruginosa. Ampisilin
memiliki zona hambat terbesar (2,147 cm2) dibandingkan ekstrak aseton (1,8896
cm2), namun tidak berbeda nyata dengan ekstrak etanol (2,0674 cm2), terhadap
bakteri Staphylococcus aureus. Pengujian KHM dilakukan dengan metode dilusi
tabung. Hasil pengujian KHM menunjukkan bahwa ekstrak aseton dengan kadar
50% efektif terhadap kedua bakteri uji. Hasil KHM terbaik ditunjukkan oleh
ekstrak etanol yaitu dengan kadar 25% merupakan konsentrasi yang efektif
menghambat pertumbuhan kedua bakteri uji yaitu Pseudomona aeruginosa
maupun Staphylococcus aureus.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Teknobiologi > Tekno Industri
Divisions: Fakultas Teknobiologi > Biologi
Date Deposited: 20 Jan 2016 11:27
Last Modified: 20 Jan 2016 11:27
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/8593

Actions (login required)

View Item
View Item