YUDISTIRA, MICHAEL DENI (2015) LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BIOSKOP KOMUNITAS DI SLEMAN, D.I.YOGYAKARTA. S1 thesis, UAJY.
TA012849.pdf
File Pdf (1MB)
TA112849.pdf
File Pdf (1MB)
TA212849.pdf
File Pdf (2MB)
TA312849.pdf
File Pdf (1MB)
TA412849.pdf
File Pdf (2MB)
TA512849.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (5MB)
TA612849.pdf
File Pdf (3MB)
Abstract
Pasca reformasi, perfilman Indonesia kembali bangkit sejalan dengan kebebasan
media dan iklim berdemokrasi di negara ini. Bioskop Indonesia yang seharusnya
berperan vital mendukung kebangkitan tersebut, hingga saat ini bersikap pasif dan justru
membatasi eksistensi film dalam negeri di layar-layar lebarnya. Ketergantungan pada
bioskop yang tersedia, yang sesungguhnya hanya bertipe bioskop komersil, dan hanya
didominasi oleh segelintir korporasi yang berorientasi pada film Barat (Holywood),
mengakibatkan banyak film dalam negeri tidak terdistribusikan pada masyarakatnya
untuk diapresiasi, terutama pada sektor film independen serta kategori film festival, film
dokumenter dan film eksperimental. Sektor-kategori film tersebut merupakan sasaran
penting karena hampir tidak memiliki ruang apresiasi sama sekali, padahal melalui jalur
tersebut senantiasa lahir bakat-bakat baru dan prestasi di kancah global.
Jika memandang film dalam negeri sebagai aset kultural, maka mendesak
diperlukan sebuah konsepsi bioskop yang dapat membentuk ekosistem apresiasi film
dalam negeri secara berkesinambungan. Visi ini dinilai selaras dengan kebutuhan ruang
bagi program-program festival film, instansi dan komunitas perfilman yang tumbuh
secara organik di berbagai daerah seperti yang terjadi di Yogyakarta, juga selaras
kebutuhan bioskop lokal/independen akan arahan konsep tata ruang yang baru, yang
mana tipe bioskop ini semakin hari semakin kehilangan daya saing di tengah iklim
kompetisi yang sarat modal.
Tantangan terbesar untuk mencapai tujuan ini adalah bagaimana hasil
rancangan arsitektural dapat memikat berbagai golongan penonton dengan karekteristik
yang berbeda-beda secara bersamaan, dan tanggap terhadap dinamika program di
kemudian hari. Citra demokratis merupakan kualitas yang diprediksi dapat menjawab
tantangan tersebut, karena melalui kualitas demokratis, subyek pengguna diberikan
otoritas untuk memaknai ruang (space) dalam versinya masing-masing (place). Dalam
sekenario ini, diharapkan tumbuh keterlibatan aktif dalam diri pengguna untuk terusmenerus
memperkaya kemungkinan pengembangan dan kegiatan dalam lingkungan
bioskop. Penerapan dititikberatkan pada konsep penataan ruang-ruang komunal, konsep
zonase dan moda pemutaran, konsep sirkulasi dan artikulasi bentuk pada area-area
prekondisi atau transisi antar ruang.
Metode perencanaan dan perancangan untuk menghasilkan citra demokratis
selayaknya menyesuaikan pola-pola morfologis, teknik, maupun prilaku yang telah ada
sebelumnya agar tercipta hubungan selaras di masa kini hingga masa mendatang yang
tak dapat ditebak. Oleh karenanya, pendekatan arsitektur organik digunakan sebagai
metode pencarian bentuk arsitektural, sebagaimana dasar filosofinya yang berfaham
humanis, ruang disesuaikan menurut hakekat manusia dan komunitasnya yang
senantiasa tumbuh dan hidup dalam dualisme kebebasan dan keterikatan
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Ekosistem apresiasi, golongan penonton, citra demokratis, arsitektur organik. |
| Subjects: | Arsitektur > Teknologi Arsitektural Penelitian Dosen > Arsitektur > Teknologi Arsitektural |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Date Deposited: | 30 Nov 2015 12:31 |
| Last Modified: | 30 Nov 2015 12:31 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/8463 |
