Wibowo, Fx. Nurwadji and Hatmoko, John Tri and Wigroho, Haryanto Yoso Pengembangan Alat Pengolah Limbah Abu Ampas Tebu Menjadi Pozolan (2004). [Research] (Unpublished)

Text (Fx Nurwadji Wibowo, John Tri Hatmoko dan Haryanto Yoso Wigroho)
Dr. Ir. Fx. Nurwadji Wibowo_2004_0001.pdf
Restricted to Repository staff only

File Pdf (22MB)

Abstract

Produksi gula di Indonesia yang berasal dari tumbuhan tebu selain menghasilkan gula juga terdapat limbah, yaitu abu sisa pembakaran dari ampas tebu. Limbah ini tidak dimanfaatkan secara khusus, tetapi hanya digunakan sebagai bahan urug atau dibuang di tepi sungai. Jumlah abu ampas tebu ini sangat banyak sehingga perlu dimanfaatkan agar tidak mencemari lingkungan dan menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Salah satu pemanfaatannya adalah memproses sampai dapat digunakan sebagai bahan tambah pada pembuatan beton mutu tinggi.

Beton mutu tinggi memerlukan bahan tambah, yang dikenal sebagai pozolan, untuk mengisi rongga-rongga kecil diantara butiran semen dan bereaksi dengan kapur mati yang lemah pada adukan beton untuk membentuk calsium silicate hydrate yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan kapur mati. Reaksi ini disebabkan pozolan mempunyai kandungan silikat, aluminat dan ferrit tinggi. Oleh karena itu abu ampas tebu perlu dibakar ulang untuk membuang kandungan yang tidak bermanfaat dan meningkatkan kandungan silikat, aluminat dan ferritnya. Abu ampas tebu yang digunakan berasal dari pabrik gula Madu Kismo Yogyakarta.

Penelitian tahap kedua ini bertujuan untuk mengembangkan alat/teknik skala laboratorium yang dapat dipakai untuk membakar abu ampas tebu dengan energi yang efisien, mengembangkan alat penghalus abu dengan kehalusan lolos saringan # 200, mencari pada suhu berapa dan lama pembakaran berapa dihasilkan pozolan paling baik, dan berapa prosentase penggantian semen portland dengan pozolan yang memberikan kuat beton tertinggi.

Penelitian ini telah berhasil membuat alat pembakar dalam skala laboratorium yang dapat digunakan untuk memproduksi pozolan dari abu ampas tebu, dan telah membuat alat penghalus yang telah dapat digunakan untuk menghaluskan pozolan, tetapi ada pisau pemotongnya yang patah sehingga desain alat penghalus masih perlu disempurnakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada temperatur 600°C dan lama pembakaran 5 menit diperoleh pozolan dengan kandungan SiOy+ Al2O3+ Fe₂O, mencapai 78,92%, yang merupakan nilai capaian terbesar. Metode desain campuran berdasar peraturan American Concrete Institute terbukti dapat digunakan untuk membuat rencana perbandingan campuran beton mutu tinggi. Penggunaan pozolan dari abu ampas tebu untuk menggantikan semen portland dengan kadar 15% merupakan variasi yang terbaik untuk mendapatkan beton dengan kuat desak relatif tinggi, yaitu 5,9% lebih tinggi dari beton normal pada umur 56 hari. Pada umur beton 90 hari ke atas diharapkan kenaikannya lebih baik. Penggunaan pozolan dari abu memberikan hasil kuat desak yang lebih tinggi dibandingkan pozolan dari sika fume. Kuat lentur yang makin rendah dengan semakin bertambahnya umur beton merupakan fenomena yang diluar kebiasaan, olch karena itu perlu dicari penyebabnya.

Rencana kegiatan selanjutnya adalah akan melakukan perbaikan desain alat pembakar dan alat penghalus agar lebih efisien dan mampu digunakan dalam produksi nyata, mencari mitra untuk mempatenkan dan memproduksi pozolan abu ampas tebu, dan melanjutkan penelitian dengan memanfaatkan pozolan abu ampas tebu pada elemen struktur dan elemen non-struktur.

Item Type: Research
Uncontrolled Keywords: Produksi Gula, Alat Pengolah Limbah, Ampas Tebu, Pozolan
Subjects: Sipil > Manajemen Konstruksi
Sipil > Manajemen Konstruksi
Divisions: Fakultas Teknik > Program Studi Teknik Sipil
Date Deposited: 24 Nov 2025 03:11
Last Modified: 24 Nov 2025 03:11
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/35834

Actions (login required)

View Item
View Item