Danardana, A. and Brata, Aloysius Gunadi PERILAKU MASYARAKAT PANTAI SELATAN : Kasus Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Mitologi Pantai Selatan Jogjakarta (2005). [Research] (Unpublished)
A. Danardana_2005 (2)_0001.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (16MB)
Abstract
Pantai selatan pulau Jawa pada umumnya dan Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya hingga saat ini masih menyimpan sejuta teka-teki yang amat sulit diprediksi oleh manusia. Secara umum pantai selatan merupakan salah satu pantai memiliki keganasan gelombang serta struktur dasar yang cukup beresiko. Masyarakat di sekitar pantai selatan khususnya melihatnya sebagai salah satu pantai yang membahayakan namun juga menguntungkan. Ini berarti bahwa di satu sisi setiap saat bisa mengancam jiwa manusia, tetapi disisi lain masih bisa memberi kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.
Kepercayaan itu tidak semata-mata dimiliki masyarakat oleh karena pengalaman menjalani kehidupannya, melainkan lebih disebabkan oleh sistim kepercayaan masyarakat terhadap pantai selatan. Sistim kepercayaan yang terbentuk juga lebih dikarenakan satu mitologi yang terbentuk ratusan tahun yang munculnya dari satu sistim kekuasaan di di Jogjakarta.
Kepercayaan masyarakat terhadap kegarangan pantai selatan adalah adanya satu sistim kekuasaan yang berada di pantai selatan. Sistim kekuasaan ini merupakan sebuah kerajaan/kraton yang berada di dasar laut selatan. Untuk memahami itu tidak bisa terlepas dari filosofi kota Jogjakarta dengan Keraton Mataram sebagai pancer atau pusat dan tokoh-tokoh lain yang dianggap pernah menalin hubungan penguasa pantai selatan.
Di dalam penjelasan filosofi imajniner itu terwujud hubungan antara Penguasa Laut Selatan dengan Pendiri pertama Keraton Mataram dan para tokoh masyarakat lain melalui suatu proses pertapaan dan meditasi, berpuasa di beberapa tempat di wilayah pantai selatan. Lokasi yang digunakan sebagai tempat itu kemudian mencuat dengan istilah petilasan, makam, yang pada akhirnya masyarakat meniru apa yang pernah mereka lakukan. Pola itu menjadi kecenderungan yang amat kuat bagi masyarakat dan selalu mengikuti apa yang dilakukan seperti tersebut. Pola itu saat ini masih dilakukan sesuai dengan lokasi atau tempat.
Keberhasilan para tokoh dalam melakukan pertapaan, meditasi dan berpuasa serta kelengkapan pendukungnya menjadi model bagi pola kelakuan masyarakatnya. Ini kemudian menjadi kebiasaan yang tidak dapat dengan gampang dihindarkan. Oleh karena itu kehidupan masyarakat secara umum akan nampak menjadi satu kehidupan yang berjalan dengan satu tatanan yang diatur oleh sesuatu yang tidak kelihatan. Pada akhirnya itu akan membuahkan sesuatu dalam kehidupan kesehariaan. Bagaiaman hal itu bisa berkembang di dalam masyarakat hingga saat ini, tentu akan sangat ditentukan oleh siapa yang menjadi tokoh di dalam proses perkembangan kepercayaan itu.
| Item Type: | Research |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | kepercayaan, pantai selatan |
| Subjects: | Komunikasi > Jurnalisme |
| Divisions: | Fakultas ISIP > Ilmu komunikasi |
| Date Deposited: | 20 Nov 2025 03:39 |
| Last Modified: | 20 Nov 2025 03:39 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/35804 |
