Triandaru, Sigit DAMPAK KESEPAKATAN WTO DOHA MINISTERIAL CONFERENCE 2001 TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA DAN DUNIA (2003). [Research] (Unpublished)

Text (Sigit Triandaru)
Sigit Triandaru.pdf
Restricted to Repository staff only

File Pdf (21MB)

Abstract

Tahapan liberalisasi yang terakhir dilakukan oleh WTO adalah Doha Ministerial Conference 2001 yang dilangsungkan di Qatar. Konferensi tersebut menghasilkan serangkaian kesepakatan penting. Secara umum, kesepakatan yang didapatkan meliputi dua hal. Pertama, negara-negara anggota lama WTO sepakat untuk meneruskan kesepakatan Uruguay Round tahun 1994 dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan perkembangan perjanjian bilateral yang sudah dibuat sejak tahun 1994 hingga tahun 2001. Penyesuaian tersebut terutama berkaitan dengan penegasan kembali pada komitmen untuk secara sungguh-sungguh akan melaksanakan kesepakatan dalam Uruguay Round, karena sebelumnya ada keraguan pada realisasi kesepakatan Uruguay Round. Kedua, negara-negara anggota WTO sepakat untuk menerima masuknya China sebagai anggota WTO yang baru. Masuknya China merupakan sesuatu yang penting tidak hanya bagi perekonomian Indonesia ataupun negara-negara di kawasan ASEAN, tetapi juga bagi perekonomian dunia secara umum. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan lagi mengingat perkembangan perekonomian China seccara relatif dibandingkan perkembangan perekonomian Indonesia.
Dari sisi topik secara umum, penelitian ini serupa dengan penelitian Walmsley dan Hertel pada tahun 2000 dengan beberapa modifikasi. Penelitian Walmsley dan Hertel menekankan pada pengaruh waktu masuknya China, dan efek masuknya China ditekankan pada perekonomian Amerika Utara dan Eropa. Penelitian ini menekankan pada efek WTO Doha Ministerial Conference secara lengkap, tanpa melihat waktunya karena untuk saat ini China sudah dipastikan masuk dalam WTO melalui kesepatan Doha, Qatar. Dalam penelitian ini, efek realisasi kesepakatan tersebut ditekankan pada pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. Dari sisi metodologi, penelitian ini serupa dengan penelitian Walmsley dan Hertel, yaitu menggunakan pendekatan model keseimbangan umum berupa aplikasi Computable General Equilibrium (CGE), yaitu Global Trade Analysis Project (GTAP). Perbedaannya terletak pada perumusan skenario analisis, yaitu pada agregasi sektoral, agregasi regional, dan skema penurunan tarif. Penelitian ini menggunakan versi terbaru dari GTAP yaitu GTAP Version 5. Database yang digunakan dalam versi ini didasarkan pada keseimbangan tahun 1997.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa realisasi kesepakatan WTO Doha Ministerial Conference cenderung berdampak positif dari sisi nilai PDB, dasar tukar, dan kesejahteraan Indonesia, tetapi berdampak negatif terhadap neraca perdagangan Indonesia. Perhitungan tentang dampak negara mana yang tidak melaksanakan kesepakatan tidak terlalu penting karena hal tersebut tidak banyak berdampak pada efek yang diterima Indonesia. Wilayah yang cenderung paling diuntungkan adalah negara maju dan China. Sektor dalam perekonomian Indonesia yang paling rentan terkena dampak negatif adalah sektor pertanian

Item Type: Research
Subjects: Ilmu Ekonomi > Pembangunan
Divisions: Fakultas Ekonomi > Ilmu Ekonomi
Date Deposited: 19 Nov 2025 06:44
Last Modified: 19 Nov 2025 06:44
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/35507

Actions (login required)

View Item
View Item