Krismiyanto, Yoseph Dwikora and Felasari, Sushardjanti POLA, TATA-RUANG DAN TATA-BENTUK ARSITEKTUR PEZIARAHAN RELIGIUS KATOLIK DI YOGYAKARTA (2003). [Research] (Unpublished)
Ir. Yoseph Krismiyanto.pdf
Restricted to Repository staff only
File Pdf (21MB)
Abstract
Pola tata ruang dan tata letak bangunan pada kawasan peziarahan yang diteliti mengikuti skema area inti yang berupa kapel atau gereja sebagai Pusat. Pusat di sini dimaksudkan dalam pengertian Teologis yaitu Kristus sebagai Kepala Gereja, sehingga meskipun tujuan peziarah adalah devosi namun dalam penerapan tata ruangnya tetaplah Panti Ekaristi atau tempat perayaan Ekaristi ditempatkan lebih utama sehingga ditempatkan berdekatan dengan area devosi namun ditempatkan pada level lebih tinggi dan menjadi area inti Kawasan Peziarahan. Setelah itu di luar lingkaran area inti kawasan baru terdapat area publik yang berfungsi sebagai open space, tempat-tempat beristirahat dan bersantai serta ruang-ruang service (misalnya area parkir dan fasilitas kamar kecil). Di luar itu masih terdapat berbagai pelayanan seperti kios-kios souvenir dan rumah-rumah makan.
Dalam perancangan tapak selalu dijumpai dua titik utama, yaitu kawasan yang merupakan titik awal perjalanan simbolis (ritual) menuju kawasan peziarahan yang merupakan titik tujuan (devosi). Mengikuti ajaran Teologis Gereja, perjalanan ini diwujudkan dalam prosesi Jalan Salib dengan route atau jalur perjalanan dari kawasan yang menjadi titik keberangkatan menuju kawasan peziarahan. Tata ruang route perjalanan ini juga menerapkan adanya perhentian-perhentian atau Stasi-Stasi jalan salib sebagai tempat merenungkan perjalanan penyaliban Yesus Kristus.
Bentuk arsitektur dari dua ruang komunal utama; yang profan berupa ruang terbuka tempat berkumpul dan tempat acara lain dengan bentuk Kampung sedangkan yang sakral berkaitan dengan kegiatan religius berupa jalur prosesi doa dan ruang ibadat bersama di suatu area terbuka dengan bentuk Joglo atau Limasan. Bentuk-bentuk arsitektur tersebut digali dari khasanah arsitektur tradisional dalam upaya menterjemahkan konsep arsitektural peziarahan yang diterjemahkan sebagai "perjalanan" rohani menuju tujuan hidup sejati mambawa konsekuensi tata ruang dan bentuk arsitektur peziarahan barupa Titik awal atau Ruang sebagai titik tolak perjalanan, jalan sebagai route dan Ruang Doa dan Devosi sebagai tempat yang merupakan tujuan.
Penataan arsitektur kawasan peziarahan mengikuti penataan dalem atau rumah tinggal Jawa sebagai pusat individu dan keluarga menunjukkan upaya keserasian hubungan kepada Tuhan dan sesama, antara yang transenden dan yang imanen. Dalam hubungan di atas, ada suatu pusat yang menarik masyarakat sebagai pribadi maupun kelompok dalam suatu kegiatan kegiatan sakral, yang dalam kawasan peziarahan mendapatkan ruang dan bentuknya. Dalam hal ini, selain pusat-pusat yang sifatnya 'permanen' terdapat pula pusat-pusat "tidak permanen' yang diadakan untuk kepentingan tertentu. Hal ini memperkuat konsepsi kelompok masyarakat religius dengan pandangan dunia yang cenderung kepada kesatuan kosmologis yang dalam setting permukiman tradisional tidak selalu langsung berkaitan dengan geografis saja tetapi lebih-lebih kegiatan yang berlangsung di dalamnya dan aspek simbol dari ide dan konsep pandangan hidupnya. Dengan berkembangnya budaya bermukim ke arah budaya modern setting tradisional menemukan tempatnya dalam budaya vernakular juga mengalami perkembangan baik melalui cara adaptif maupun dialogis.
| Item Type: | Research |
|---|---|
| Subjects: | Arsitektur > Bangunan Arsitektural Penelitian Dosen > Arsitektur > Bangunan Arsitektural |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Date Deposited: | 19 Nov 2025 06:37 |
| Last Modified: | 19 Nov 2025 06:37 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/35505 |
