Tim Peneliti LPU-UAJY RELIGIUSITAS KAUM MUDA KATOLIK SITINJAU DARI ASPEK KARAKTERISTIK KELUARGA, PENDIDIKAN, LINGKUNGAN DAN AKTIVITAS SOSIAL KEMASYARAKATANNYA : Studi Tentang Religiusitas Kaum Muda Katolik di Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta (1993). [Research] (Unpublished)

Text (Tim Peneliti LPU-UAJY)
Tim Peneliti LPU-UAJY.pdf
Restricted to Repository staff only

File Pdf (80MB)

Abstract

Responden yang berhasil dihimpun dalam penelitian ini adalah 450 kaum muda katolik yang berumur antara 15-24 tahun dan belum menikan. Mereka berasal dari sembilan paroki yang terdapat di Ke-vikepan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini, mereka kebanyakan berasal dari lingkungan keluarga katolik; sebanyak 82,44 % dari jumlah keseluruhan responden menyatakan ke-dua orang tuanya beragama katolik dan sebanyak 87,11 % menyatakan semua anggota keluarganya beragama katolik. Disamping itu keba-nyakan responden (84,89 %) babtis pada waktu mereka masih bayi dan hanya 15,11 % saja yang babtis dewasa.
Tingkat kesejahteraan responden dapat dikatakan cukup baik terutama ditinjau dari pekerjaan orang tua, status pemilikan dan kondisi rumah serta pemilikan barang-barang dalam keluarga. Se-dangkan apabila ditinjau dari asal parokinya, ternyata tingkat kesejahteraan responden di paroki yang dikategorikan perkotaan (Kemetiran, Kidul Loji, Bintaran) dan yang dikategorikan pinggir-an (Gamping, Banteng, Bantul) lebih baik daripada di paroki yang dikategorikan pedesaan (Nanggulan, Klepu, Ganjuran). Hal ini ter-utama ditinjau dari pemilikan barang-barang dalam keluarga seper-ti sepeda motor, mobil, video dan video camera, almari es, me-sin cuci, antene parabola.
Jenis sekolah yang pernah diikuti responden dari tingkat da-sar sampai jenjang perguruan Tinggi/Akademi cukup bervariasi. Pada tingkat Sekolah Dasar (SD) kebanyakan responden menempuh pendidikan di sekolah katolik (69,11%). Sedangkan pada jenjang SMTP dan SMTA jumlah responden yang menempuh pendidikan di seko-lah katolik dan non katolik hampir seimbang. Pada jenjang SMTP sebanyak 49,21% menempuh pendidikan di sekolah katolik, dan pada jenjang SMTA ada sebanyak 49,61% yang menempuh pendidikan pada jenis sekolah katolik. Berbeda pada jenjang Perguruan Tinggi/Aka-demi, ternyata lebih banyak responden yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi non katolik yaitu sebanyak 61,87 % dan hanya se-besar 38,13 % saja yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi katolik.
Di dalam kegiatan/organisasi sekolah kebanyakan responden tidak ikut berperan serta (59,11%), namun pada kegiatan/organi-sasi non sekolah (kemasyarakatan) mereka cenderung mengikutinya yaitu sebanyak 88,67 %. Kegiatan sekolah yang diikuti responden kebanyakan bersifat non katolik, sedangkan kegiatan/organisasi kemasyarakatan kebanyakan mereka ikut serta dalam kegiatan/or-ganisasi katolik.
Guna melihat karakteristik keluarga, pendidikan, asal paro-ki, keikutsertaan dalam kegiatan/organisasi dan penggunaan barang-barang keagamaan dalam dukungannya terhadap tingkat reli-giusitas kaum muda, dilakukan perhitungan dengan menggunakan ru-mus Chi-Square. Dengan menggunakan perhitungan ini akan diperoleh nilai x2 hitung, dan selanjutnya dicari pula X2 tabel pada level of significant 0,10. Antara X2 hitung dengan x2 tabel diper-bandingkan, apabila besarnya x2 hitung > x2 tabel berarti hasil perhitungan ini signifikan atau ada perbedaan dukungan antara item dalam suatu variabel terhadap tingkat religiusitas kaum muda, demikian pula sebaliknya. Dari keseluruhan perhitungan dalam penelitian ini telah dirangkum seperti yang terlihat pada tabel hasil perhitungan chi-square antara tingkat religiusitas dengan karakteristik kaum muda katolik.
Hasil perhitungan Chi-Square pada tabel di atas menunjukkan bahwa kebanyakan item dalam variabel-variabel tersebut tidak ada perbedaan dukungan terhadap tingkat religiusitas kaum muda. Pen-didikan tertinggi responden yang meliputi SD, SMTP, SMTA dan Per-guruan Tinggi/Akademi ternyata tidak ada perbedaan dukungan terhadap tingkat religious practice, tingkat religious feeling dan tingkat religious effect kaum muda, namun terjadi perbedaan dukungan terhadap tingkat religious knowledge. Sedangkan jenis pendidikan yang meliputi pendidikan katolik dan non katolik ternyata tidak ada perbedaan dukungan terhadap keempat tingkat religiusitas tersebut.
Latar belakang keluarga yang meliputi pekerjaan pokok ayah.
agama orang tua, agama anggota keluarga dan usia babtis respon-den, ternyata hanya pekerjaan pokok ayah saja yang menunjukkan perbedaan dukungan terhadap tingkat religiusitas kaum muda, yaitu pada tingkat religious practice dan tingkat religious effect. Sedangkan agama orang tua, agama anggota keluarga dan usia babtis responden sama sekali tidak ada perbedaan dukungan terhadap keem-pat tingkat religiusitas.
Keikutsertaan dalam kegiatan/organisasi sekolah dan kema-syarakatan maupun sifat organisasi yang diikuti ternyata juga ti-dak ada perbedaan dukungan terhadap tingkat religiusitas kaum muda.
Asal paroki yang pada penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu pedesaan (Paroki Nanggulan, Klepu, Ganjuran), pinggiran (Paroki Gamping, Banteng, Bantul) dan perkotaan (Keme-tiran, Kidul Loji, Bintaran) ternyata ada pebedaan dukungan ter-hadap tingkat religious knowledge dan tingkat religious effect. Adanya perbedaan ini terlihat dari frekuensi responden yang ter-masuk dalam kategori tingkat religious knowledge tinggi, antara paroki yang terdapat di daerah pedesaan, pinggiran dan perkotaan.
Paroki Bintaran yang termasuk dalam kategori kota, sebanyak 50 responden atau semua responden yang berasal dari paroki ini mem-punyai tingkat religious knowledge tinggi. Sedangkan frekuensi terendah untuk tingkat religious knowledge tinggi adalah Paroki Klepu yang termasuk daerah pedesaan. Sedangkan untuk tingkat re-ligious effect terjadi sebaliknya, frekuensi tertinggi untuk ka-tegori tingkat religious effect tinggi adalah Paroki Klepu dan frekuensi terendah adalah Paroki Bintaran.
Penggunaan barang-barang keagamaan yaitu penggunaan salib, kitab suci, tasbih kebanyakan ada perbedaan dukungan terhadap tingkat religiusitas kaum muda. Antara yang menggunakan salib, kitab suci dan tasbih dan yang tidak menggunakannya terdapat per-bedaan dukungan terhadap tingkat religious practice. Pada tingkat religious feeling perbedaan dukungan hanya terjadi pada penggu-naan tasbih. Penggunaan barang-barang keagamaan ini tidak ada perbedaan dukungan terhadap tingkat religious knowledge kaum muda. Sedangkan pada tingkat religious effect terjadi perbedaan dukungan antara yang menggunakan salib dan tidak, dan antara yang menggunakan kitab suci dan tidak.
Disamping dilakukan perhitungan dengan rumus Chi-Square, da-lam penelitian ini juga dilakukan perhitungan dengan rumus kore-lasi untuk mngetahui ada tidaknya hubungan/korelasi antar varia-bel tingkat religiusitas. Dari hasil perhitungan ini diketahui bahwa tingkat religious practice berpengaruh terhadap tingkat re-ligious feeling, tingkat religious knowledge dan tingkat reli-gious effect. Demikian juga tingkat religious feeling berpengaruh terhadap tingkat religious effect. Tingkat religious feeling tidak berpengaruh terhadap tingkat religious knowledge, dan ting-kat religious knowledge tidak berpengaruh terhadap tingkat re-ligious effect. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan kewajiban ritual keagamaan berpengaruh terhadap perasaan keaga-maan, pengetahuan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang dimotivasi oleh agamanya. Demikian juga perasaan keagamaan yang pernah dialami berpengaruh terhadap tindakan seseorang dalam ke-hidupan sehari-hari. Namun perasaan keagamaan yang dialami tidak berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang, dan pengetahuan kea-gamaan yang tinggi tidak menjamin seseorang mempunyai tindakan yang lebih baik.

Item Type: Research
Subjects: Komunikasi > Jurnalisme
Komunikasi > Kajian Media
Komunikasi > Komunikasi
Date Deposited: 14 Nov 2025 03:57
Last Modified: 14 Nov 2025 03:57
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/35495

Actions (login required)

View Item
View Item