Anjali, Sabilla Shinta Putri Permata (2025) PERANCANGAN RINJANI VILLAGE BOUTIQUE RESORT DENGAN KONSTRUKSI ADAPTIVE REUSE LUMBUNG DI KARANG BAJO, BAYAN, LOMBOK UTARA. S1 thesis, UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA.
210118781_Bab 0.pdf
File Pdf (264kB)
210118781_Bab 1.pdf
File Pdf (589kB)
210118781_Bab 2.pdf
File Pdf (1MB)
210118781_Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (813kB)
210118781_Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
210118781_Bab 5.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
210118781_Bab 6.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (32MB)
Abstract
Desa Karang Bajo terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Bayan pada tahun 2004.
Pemekaran ini dilakukan karena adanya ketidakselarasan antara perkembangan di Desa Bayan
dengan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) yang tersedia. Oleh karena itu, para tokoh adat
pada tahun 2004 memutuskan untuk membagi Desa Bayan menjadi dua, yakni Desa Bayan sebagai
desa induk dan Desa Karang Bajo sebagai desa hasil pemekaran. Terletak di Kecamatan Bayan,
Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, nama Desa Karang Bajo berasal dari
sejarah masjid kuno yang dibangun oleh 44 tokoh adat, termasuk satu orang dari suku Bajo. Desa
ini masih mempertahankan adat istiadat kuat yang diwariskan leluhur seperti kamp.
Relasi Bayan dengan Karang Bajo sendiri cukup kuat, dikarenakan posisi Mesjid Kuno yang
bersebelahan dengan Rumah Adat Karang Bajo. Desa Bayan sendiri memperkuat tradisi dengan
membagi zonifikasi murni wisata adat yang tidak sembarangan dicampur dan dikomersialkan nilai
budayanya, sedangkan Karang Bajo difokuskan untuk pemekaran dan perkembangan, terutama
menjadi desa wisata.
Desa Karang Bajo sudah memenuhi komponen kerangka pengembangan yang terdiri dari
daya tarik wisata (Attraction), mencakup keunikan dan pesona berbasis alam, budaya, atau buatan
manusia; aksesibilitas (Accessibility), meliputi kemudahan dalam sarana transportasi dan sistem
perjalanan; amenitas (Amenities), mencakup fasilitas pendukung untuk kenyamanan wisatawan;
pelayanan umum (Ancillary Service), pendukung aktivitas pariwisata secara keseluruhan ; dan
lembaga (Institutions), pemilik otoritas, tanggung jawab, dan peran dalam mendukung pelaksanaan
kegiatan pariwisata. Lalu, bagaimana peran industri komersial terhadap tradisi dan budaya di Bayan
dan Karang Bajo yang berdekatan, apakah akan menjadi bagian dari pelestarian atau bumerang?
Apakah Bayan dan Karang Bajo cenderung inklusif atau eksklusif terbuka untuk masyarakat asing?
Secara historis, Bayan tumbuh dengan tradisi yang inklusif dan telah menjadi 'punggung
tradisi' kedaulatan akan alam. Tradisi memiliki asal usul, sebuah gabungan benang merah antara
alam yang lestari dan masyarakat yang uyup. Pertanyaan tentang komersialisasi selalu dilegalkan
selagi tidak adanya perusakan alam. Namun, yang menjadi concern adalah sejauh mana nilai adat
ini akan dikomersialkan, baik dari segi finansial maupun sebagai upaya pelestarian budaya.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Desa Wisata Karang Bajo, Adaptive Reuse, Wisata Alam & Budaya, Rinjani, Boutique Resort. |
| Subjects: | Arsitektur > Lingkungan Kawasan Penelitian Dosen > Arsitektur > Lingkungan Kawasan |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Date Deposited: | 03 Sep 2025 02:18 |
| Last Modified: | 03 Sep 2025 02:18 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/34450 |
