BABARO, WILHELME LAMDHANYSKRIP (2010) MUSEUM BUDAYA DI PONTIANAK. S1 thesis, UAJY.
0TA12274.pdf
File Pdf (376kB)
1TA12274.pdf
File Pdf (180kB)
2TA12274.pdf
File Pdf (681kB)
3TA12274.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
4TA12274.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (2MB)
5TA12274.pdf
File Pdf (4MB)
Abstract
Di masa pembangunan bangsa yang semakin berkembang ini terdapat kecenderungan
untuk terjadinya degradasi atau penurunan nilai budaya. Salah satu faktor penyebabnya
adalah kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dan pelestarian budaya.
Pada budaya-budaya yang hanya mengandalkan tradisi lisan dalam pewarisannya dari
generasi ke generasi berikutnya, permasalahan ini menjadi semakin rumit.
Kebudayaan Suku Dayak di Pulau Kalimantan merupakan salah satu kebudayaan yang
menggunakan tradisi lisan dalam perkembangannya. Penggunaan model tradisi seperti
ini tidak pelak lagi memiliki banyak kelemahan. Kelemahan terbesarnya adalah tradisi
seperti ini memiliki kecenderungan mudah untuk dilupakan. Oleh karena itu perlu
dilakukan usaha-usaha untuk menjaga kelestariannya.
Kurangnya sarana untuk pendidikan dan pelestarian budaya merupakan kendala yang
serius dalam usaha untuk mempertahankan keberadaan nilai-nilai budaya di Kalimantan
Barat. Apabila tidak diperhatikan lebih serius maka akibat terburuknya adalah
terjadinya kepunahan nilai-nilai budaya dalam lingkup masyarakatnya sendiri, yang
berarti hilangnya jati diri masyarakat tersebut.
Bertolak dari permasalahan tersebutkan dapat dilihat bahwa diperlukan usaha-usaha
untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya yang telah ada, di Kalimantan
Barat khususnya, dengan menyediakan sarana yang sesuai ―dilihat dari kapasitasnya
sebagai sarana pendidikan dan pelestarian budaya―yaitu museum budaya.
Bangunan Museum Budaya ini merupakan sarana pendukung kebudayaan, oleh karena
itu dalam wujud rancangannya diharapkan mampu menunjukkan karakter budaya yang
diusungnya dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik pula. Dengan kata lain
bangunan merupakan ekspresi dari kebudayaan setempat.
Untuk menggabungkan prinsip-prinsip tradisional tersebut ke dalam rancangan
arsitektur masa kini diperlukan pendekatan yang mampu memadukan keduanya dengan
baik. Dengan kata lain menekankan pada penggunaan unsur-unsur budaya lokal dalam
aspek perancangan.
Dengan aliran Post-Modern sebagai pendekatan dalam perancangan bangunan Museum
Budaya ini, perpaduan antara prinsip-prinsip tradisional dengan rancangan arsitektur
masa kini dapat terwujud sehingga rancangan bangunan Museum Budaya ini mampu
menghadirkan nuansa budaya yang mengikuti perkembangan jaman.
Pada transformasi tata ruang dalam perancangan Museum Budaya ini memakai
karakteristik rumah betang yang merupakan rumah adat suku Dayak. Bentuk ruang yang
dihasilkan mengikuti pola penataan rumah panjang dengan bilik–bilik kamar di susun
saling bersebelahan. Pola penataan ini cocok diterapkan pada area ruang pameran
dengan selasar sebagai penghubung tiap ruangnya. Transformasi pada tata ruang
dalamnya mencakup wujud ruang, bidang atas, bidang batas, bidang alas, warna dan
ornament.
Bangunan Museum Budaya di Pontianak, Kalimantan Barat ini mengambil bentuk–
bentuk arsitektur tradisional suku Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan Barat.
Pada perancangannya arsitektur tradisional itu kemudian di transformasikan melalui
konsep arsitektur post-modern regionalisme. Dalam hal ini karakteristik yang dipakai
adalah karakter pada bangunan tradisional Dayak. Transformasi tesebut nantinya terkait
pada pola tatanan, kosmologi, fasad, gubahan massa, material serta warna pada
bangunan.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Subjects: | Arsitektur > Bangunan Arsitektural Penelitian Dosen > Arsitektur > Bangunan Arsitektural |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Date Deposited: | 22 Jul 2013 08:40 |
| Last Modified: | 22 Jul 2013 08:40 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/3288 |
