KUSUMA, GIANNY ANGGER (2019) REVITALISASI NDALEM TEJOKUSUMAN DI YOGYAKARTA MENJADI SANGGAR DAN MUSEUM SENI TARI DENGAN ANALOGI SARI TUNGGAL. S1 thesis, UAJY.
TA15781 0.pdf
File Pdf (858kB)
TA15781 1.pdf
File Pdf (542kB)
TA15781 2.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
TA15781 3.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (582kB)
TA15781 4.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
TA15781 5.pdf
Restricted to Registered users only
File Pdf (1MB)
TA15781 6.pdf
File Pdf (556kB)
Abstract
Menurut International Council of Museum (ICOM), museum adalah lembaga non-profit
yang bersifat permanen yang melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum
yang bertugas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan
memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berupa benda terwujud dan tak terwujud beserta
lingkungannya untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan hiburan. Pengertian Museum Seni Tari
adalah museum yang memberikan informasi dengan menampilkan benda-benda koleksi yang
berkaitan dengan Seni Tari. Museum Seni Tari ini terletak di Rumah Tradisional Jawa Yogyakarta
yaitu Ndalem Tejokusuman. Tidak hanya berfungsi sebagai Museum, sejak tahun 1918 Ndalem
Tejokusuman telah berfungsi sebagai tempat pelatihan dan pementasan Sanggar tari klasik
bernama Krida Beksa Wirama dan Pencak Silat Krishnamurti. Dengan adanya kegiatan tersebut
di dalam Museum, diharapkan Ndalem ini dapat menjadi living museum. Pengertian living
museum adalah sebagai salah satu strategi pelestarian rumah tradisional jawa sebagai bangunan
cagar budaya yang mulai tergeser keberadaannya akibat perkembangan penduduk yang berdampak
pada ketersediaan lahan semakin terbatas karena meningkatkan kebutuhan sarana prasarana. Halhal
tersebut dapat menggeser keberadaan bangunan tua pembentuk karakter kawasan. Situasi ini
membutuhkan langkah masa depan yang berkelanjutan untuk menjadikan Ndalem sebagai living
museum dengan pertimbangan nilai arsitektur, pengelolaan, fungsi, dan kelayakan bangunan.
Revitalisasi Ndalem Tejokusuman di Yogyakarta menjadi Sanggar dan Museum Seni Tari
ini akan menyesuaikan dengan ruang dalam dan ruang luar Ndalem yang telah ada. Macam-macam
materi obyek pamer yang akan dipamerkan adalah tentang sejarah dan perkembangan pendiri
sanggar tari Krida Beksa Wirama, pemaparan macam pencak silat, tari klasik dan non klasik
Yogyakarta, karya-karya yang dihasilkan pendiri hingga busana serta properti yang digunakan
untuk tarian di Krida Beksa Wirama. Informasi dari materi yang akan dipamerkan dapat menjadi
terlalu monoton apabila tidak didukung oleh penataan koleksi dan suasana ruang yang
rekreatif/menarik. Akan tetapi informasi tersebut juga harus bersifat mendidik atau mudah
dipahami sehingga juga harus bersifat edukatif. Salah satu bentuk penyelesaian dari permasalahan
tersebut digunakan suatu pendekatan arsitektur berupa analogi hakikat tari klasik Yogyakarta yang
dikaitkan dengan tari Sari Tunggal Tejokusuman dengan memadukan arsitektur tradisional jawa
yang telah melekat pada Ndalem. Dengan demikian Sanggar dan Museum Seni Tari Tejokusuman
dapat menjadikan Ndalem sebagai living museum yang edukatif dan rekreatif pada tata ruang
dalam dan tata ruang luar dengan memadukan arsitektur tradisional Jawa.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Living Museum, Museum Seni Tari, Revitalisasi Ndalem, Pengolahan Tata Ruang Dalam dan Luar, Suasana edukatif dan rekreatif |
| Subjects: | Arsitektur > Bangunan Arsitektural Penelitian Dosen > Arsitektur > Bangunan Arsitektural |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Program Studi Arsitektur |
| Date Deposited: | 04 Nov 2019 04:00 |
| Last Modified: | 04 Nov 2019 04:00 |
| URI: | https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/20610 |
