Suryanti, Chatarina MEMAHAMI PLURALISME AGAMA DALAM RANGKA MEMBANGUN KERUKUNAN DAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (2016). [Research]

Text (Penelitian Tenik Informatika)
TF30201.pdf
Restricted to Repository staff only

File Pdf (2MB)

Abstract

Penelitian ini merupakan studi kasus untuk mengetahui sejauh mana pemahaman
mahasiswa tentang pluralisme agama, dan mengungkap apakah benar sikap mahasiswa
terhadap pluralisme agama masih bersifat indiferentis, relatif dan eksklusif?
Dari hasil penelitian telah ditemukan bahwa pemahaman mahasiswa tentang
pluralisme agama masih rendah dan sempit. Sebagian besar responden berpandangan bahwa
semua agama sama saja dan sama benar, kebenaran agama bersifat tunggal, iman
menyangkut perasaan dan tidak rasional. Yang memprihatinkan adalah masih ada (15%)
responden yang memandang pluralisme agama menunjukkan agama yang benar dan salah,
sehingga merekapun tidak mengakui adanya kebenaran dan keselamatan di luar agamanya.
Ini menunjukkan bahwa mereka kurang kritis dan cenderung cenderung tekstual, sehingga
mereka tidak bisa menemukan makna terdalam dari pluralisme agama. Jadi benar bahwa
sebagian besar mahasiswa masih bersikap indiferentis, relatif dan eksklusif. Tentu saja sikap
ini bisa merusak kerukunan dan toleransi antar umat beragama.
Pluralisme agama adalah suatu kenyataan keragaman agama. Kenyataan ini tidak bisa
dihindari, suka atau tidak suka harus dihadapi dan diakui, sebab dari kodratnya manusia rindu
akan kedamaian dan mencari pembebasan dari kecemasan hidup ini (Nostra Aetate/ NA 2).
Memang cara, metode atau jalan menuju Tuhan berbeda-beda, tetapi Tuhan yang kita tuju
adalah sama, yaitu Allah Yang Maha Esa. Dari refleksi teologis, pluralisme agama menjadi
kekayaan rohani, karena Allah adalah kasih 1 Yoh 4: 8). Kasih Allah ini telah
dikomunikasikan kepada semua umat manusia. Misi agama adalah misi kasih karena di
dalam Dia terdapat sumber, tujuan dan jalannya (bdk. Ad Gentes/ AG 2-5). Maka setiap
kegiatan misi agama harus diresapi semangat kasih.
Pertanyaannya, dapatkah pluralisme agama membawa persaudaraan sejati?
Pemahaman pluralisme agama yang kritis, pluralis dan dialogis sangat relevan untuk
membongkar sikap eksklusivisme dan relativisme, dan sangat efektif dalam membangun
penghayatan iman intrinsik, iman yang merangkul semua orang dan menumbuhkan
persaudaraan sejati antar umat beragama. Sikap ini menunjukkan aktivitas persahabatan.
Orang-orang yang saling bersahabat biasanya saling menjaga, peduli satu sama lain, berbagi
kegembiraan dan kesulitan bersama. Persahabatan mencetuskan kesetiakawanan,
kebersamaan, kerukunan, ketetanggaan, kekeluargaan dan yang sejenisnya. Persahabatan
merupakan perwujudan iman yang konkrit. Budaya persahabatan membutuhkan kesadaran –
kesadaran baru: kesadaran yang mengutamakan moralitas daripada legalitas, mengutamakan
kemanusiaan daripada aturan agama, mengutamakan berpikir mencintai daripada dicintai.
Dengan demikian persahabatan akan membangun penghayatan agama menjadi relasi –
personal – Allah sentris, artinya penghayatan iman intrinsik yang berpusat pada Allah yang
mencinta semua manusia. Manusia menjadi jalan utama dan pertama yang harus dilalui
agama dalam menjalankan misinya.
Karena itu kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman
sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan
harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. (Gaudium Et Spes/ GS 1).

Item Type: Research
Uncontrolled Keywords: Satu Allah Banyak Agama, Pluralisme Agama, Agama bersifat fungsional
Subjects: Teknik Informatika > Soft Computing
Divisions: Fakultas Teknologi Industri > Teknik Informatika
Date Deposited: 25 Aug 2016 09:56
Last Modified: 06 Mar 2025 05:31
URI: https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/10194

Actions (login required)

View Item
View Item